PERKEMBANGAN NAHDHATUL ULAMA DI MASA KINI
Nahdlatul ulama
adalah organisasi yang dirintis dan disepakati oleh para ulama pesantren
sebagai wadah mempersatukan diri dan menyatukan langkah dalam mengamalkan
ajaran islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dan berkhidmat kepada bangsa dan Negara.
NU merupakan perkumpulan ulama yang bangkit dan membangkitkan para pengikutnya
bersama kaum muslimin di tengah lingkungan masyarakat, juga sebagai Jam’iyyah
Diniyah Islamiyah yang merupakan bagian dari masyarakat bangsa Indonesia
berpegang teguh pada kaidah-kaidah keagamaan.
Sedangkan
Ahlussunnah Wal Jama’ah sendiri adalah suatu golongan yang sudah ada sejak
zaman Rasulullah SAW, sahabat Nabi, dan Tabi’in yang biasanya disebut dengan
“As-Salafus Shalih”, pendapat ini didasarkan pada pengertian, bahwa Ahlussunnah
Wal Jama’ah adalah golongan yang senantiasa setia mengikuti sunnah Nabi SAW dan
petunjuk para sahabatnya dalam Aqidah, Fikih, dan Tasawwuf.
NU adalah
organisasi yang besar, bahkan yang terbesar di Indonesia, termasuk organisasi
yang kuat, yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dan perkembangan, baik perubahan
politik ataupun perkembangan ilmu pengetahuan. Diniyah Ijtima’iyah yang
bermotif keagamaan dan berlandaskan keagamaan NU harus dipimpin oleh
tokoh-tokoh yang bias dipertanggung jawabkan secara moral, ilmu, amal dan akhlak. Sebagaimana yang
dijelaskan dalam Hadits:
لاَتَبْكُوْا عَلَى الدِّيْنِ اِذَا وَلِيَهُ اَهْلُهُ وَابْكُوْا
عَلَى الدِّيْنِ اِذَا وَلِيَهُ غَيْرُ اَهْلِهِ
“ jangan kalian menangisi agama bila ia
dikuasai oleh ahlinya, dan tangisilah agama itu bila ia dikuasai oleh orang
yang bukan ahlinya”
NU
mempunyai sistem kepengurusan yang berbeda dengan organisasi yang lain, yaitu
terdiri dari Mustasyar yang berfungsi sebagai penasehat. Yang kedua Syuriyah
yang berfungsi sebagai pemimpin, Pembina, pengendali, pengawas dan penentu
kebijakan, dan yang terakhir adalah Tanfidziyah sebagai pelaksana
tugas-tugasnya.
Pada
zaman Globalisasi ini NU berkembang sangat pesat bahkan kegiatan atau
program-program di dalamnya sangat baik, namun saat ini NU mulai mengalami
kemunduran. Semua itu disebabkan datangnya firqoh-firqoh yang tak kalah kuatnya
dengan NU Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Muhammadiyah, Syiah, dan lain-lainnya
bahkan firqoh-firqoh tersebut mempunyai dalil-dalil yang kuat. Sebagaiman yang
telah diketahui bahwa Muhammadiyah sangat berat menerima kebiasaan-kebiasaan
masyarakat NU Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Dibaiyah, Tahlil, Marhaban,
Manaqib, dll. Dengan alasan semua alasan itu termasuk Bid’ah, yaitu sesuatu
yang belum pernah dikerjakan oleh nabi dan sahabat-sahabatnya. Munculnya
firqoh-firqoh baru yang menyesatkan seperti Karihun dll. Firqoh tersebut telah
banyak dianut oleh sebagian penerus Ahlussunnah Wal Jama’ah khususnya di
kalangan remaja. Salah satu faktor mundurnya NU adalah banyaknya ulama’ besar
yang telah wafat dan kyrangnya kader-kader penerus NU. Apalagi di zaman ini
banyak sekali pesantren-pesantren besar yang perlu perhatian dari pengasuhnya
(Kyai) sehingga NU dan kader-kader penerusnya kekurangan motifasi dan
perhatian, bimbingan dan penjagaan, dan belajar mengajar.
Namun
sebagai golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan penerusnya, kita harus
membangkitkan kembali Ukhuwah Islamiyah dan semangat penerus-penerus NU untuk
masa ke masa menghentikan kekerasan di bumi Allah dan menghentikan
firqoh-firqoh sayyiah yang telah menyeleweng dengan ajaran islam. Sebagaimana
prinsip-prinsip Nu:
اَلمْحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِح وَاْلاَخْدُ بِالْجَدِيْدِ
اْلاَصْلَح
“memelihara nilai yang lama yang baik dan
benar, dan mengambil nilai baru adalah yang lebih baik”
monggo mas ageng ...
BalasHapus