Entri yang Diunggulkan

cara upload file ke blog

cara Upload File,MP3,Flem dan Vidio di Blog Cara Upload File, MP3, Flem dan Vidio di Blog - S obat,,,, pernah tidak kalian berfi...

Selasa, 22 November 2016

123

cara menyetel kunci klep

1.sepeda montor
2.feeler gauges
3.tappet [adjust wrench]
4.kunci ring 8-9 [khusus montor bebek]
5.kunci ring 10-11 [khusus montor sport

otomotif

cara menyetel kunci klep

1.sepeda montor
2.feeler gauges
3.tappet [adjust wrench]
4.kunci ring 8-9 [khusus montor bebek]
5.kunci ring 10-11 [khusus montor sport

Senin, 06 Juni 2016

KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya Selasa, 24 Mei 2016 07:00 Tokoh Bagikan KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya KH Muhammad Yahya (atas) bersama putra-putranya ”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu. Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin. Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip. Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya. Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga. Aktif di Medan Tempur Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing. Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya. Demikian pula ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas. Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun. Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang. KH Muhammad Yahya, Mursyid Tarekat Penggerak Perang Gerilya KH Muhammad Yahya (atas) bersama putra-putranya ”Manusia dilahirkan dalam keadaan mengangis, sementara orang di sekelilingnya tertawa bahagia atas kelahirannya. Maka pada saat ia meninggal, harusnya yang terjadi adalah sebaliknya. Ia meninggal dalam keadaan senyum, sementara orang di sekelilingnya menangis bersedih atas kepergiannya.” Mungkin syair inilah yang tepat untuk menggambarkan kepergian sosok kiai kharismatik yang terkenal dengan nilai-nilai kesufiannya, Almagfurlah KH Muhammad Yahya, 23 November 1971 lalu. Bagi kaum tarekat di Indonesia, khususnya pengikut Thariqah Qodiriyyah wa Naqsyabandiyyah (TQN), nama KH Muhammad Yahya tentu sudah sangat masyhur. Keberadaannya sebagai salah seorang mursyid TQN membuat murid-muridnya menyebut Kiai Yahya sebagai Syekhul Mursyidin. Dilahirkan tahun 1900 M di Desa Jetis, Kecamatan Dau, Kabupaten Malang, Jawa Timur, KH Muhammad Yahya sejak kecil sudah bersentuhan dengan ilmu agama melalui pendidikan khas ala pesantren yang diajarkan langsung oleh ayahnya, Kiai Qoribun dan ibunya, Nyai Ratun. Hidup di tengah keluarga yang religius, Kiai Yahya juga mengikuti pendidikan dasar agama yang diasuh oleh pamannya, yaitu Kiai Abdullah yang juga salah satu mursyid Thariqah Kholidiyah. Di surau pesantren pamannya inilah Kiai Yahya mengenal dasar-dasar aqidah, bimbingan ibadah dan doktrin etika agama. Penguatan dasar agama di masa kecil ini menjadikannya kuat dan kokoh dalam mempertahankan prinsip. Kiai Yahya kecil hingga remaja memang terkenal sangat mencintai ilmu. Terbukti, tidak kurang dari enam pesantren menjadi jujugan-nya dalam menuntut ilmu selama kurun waktu 20 tahun. Mulai dari Pesantren Bungkuk Singosari, Pesantren Cempaka Blitar, Pesantren Kuningan Blitar, Pesantren Siwalan Panji Sidoarjo, Pesantren Kiai Asy’ari Tulungagung hingga Pesantren Jampes Kediri. Keenam pesantren tersebut telah memberi maziyah keilmuan tersendiri bagi Kiai Yahya. Setelah dirasa cukup, di tahun 1930 atas restu Kiai Ihsan, akhirnya Kiai Yahya boyong ke kota kelahirannya di Malang. Dan di tahun itu pula, Kiai Yahya diambil menantu oleh Kiai Isma’il, dan dinikahkan dengan putri angkat beliau yang bernama Siti Khodijah. Kiai Isma’il mengambil putri angkat dari kemenakannya sendiri, yaitu Kiai Abdul Majid. Kedua ulama ini merupakan pengasuh generasi kedua Pondok Pesantren Gadingkasri Malang, nama Pondok Pesantren Miftahul Huda saat itu, yang sekarang lebih dikenal dengan Pondok Gading. Namun, baru lima tahun usia pernikahanannya, Kiai Abdul Majid dan Kiai Isma’il wafat. Akhirnya, Kiai Yahya mengemban tugas ganda, baik sebagai pengasuh pesantren maupun sebagai kepala keluarga. Aktif di Medan Tempur Saat memimpin Pesantren Gading inilah, Kiai Yahya terpanggil untuk mendarmabaktikan jiwa dan raga untuk membela kehormatan bangsa. Kiai yang memiliki sebelas anak ini ikut terlibat aktif dalam upaya heroik membela bumi pertiwi. Bersama seorang komandan batalyon tentara Badan Keamanan Rakyat (BKR) bernama Mayor Sulam Syamsun, Kiai Yahya turut serta merancang, menyusun strategi dan menggerakkan santri dan rakyat untuk melakukan perang gerilya di Kota Malang dan sekitarnya. Bahkan, saat Rais Akbar Nahdlatul Ulama Hadratussyekh KH Hasyim Asy’ari menyerukan Resolusi Jihad pada 10 November 1945, Kiai Yahya juga termasuk salah satu dari ratusan ribu pejuang yang ikut bertempur di garis depan. Keikutsertaannya di pertempuran tersebut atas permintaan khusus dari Panglima BKR Divisi Untung Soeropati, Mayor Jenderal Imam Soedja’i. Semasa perang gerilya berlangsung, Pondok Pesantren Gading dijadikan sebagai markas pasukan dalam melakukan penyerangan ke jantung kota. Karena letaknya yang strategis dan dianggap sebagai netral zone (daerah netral), hal ini membuat pasukan merasa aman dan leluasa merancang dan merencanakan serangan. Selain itu, Pondok Gading juga terkenal di kalangan para pejuang sebagai tempat yang aman bagi berkumpulnya pimpinan dalam melakukan pertemuan dan briefing. Hal ini sesuai dengan pernyataan KH Abdurrahman Yahya (putra ke-5 Kiai Yahya) saat ditemui penulis di kediamannya, Minggu (5/7) lalu yakni, “Walaupun terhitung lebih dari sepuluh kali mortir (bom) jatuh di darah Gading namun tidak pernah terjadi ledakan yang membahayakan,” ujar Mbah Kiai Man, sapaan akrab KH Abdurrahman Yahya. Demikian pula ketika meletusnya pemberontakan DI/TII di Jawa Barat yang mana hal tersebut dikhawatirkan bakal merembet ke daerah lain, maka KH Abdul Wahid Hasyim sebagai wakil pemerintah dan petinggi Nahdlatul Ulama memilih berkunjung ke Pondok Gading. Didampingi Kepala Staf Divisi VII Surapati Kolonel Iskandar Sulaiman, di pondok inilah diadakan rapat terbatas bersama Komandan Batalyon Hamid Rusdi, Sullam Syamsun, Abdul Manan, Kapten Yusuf bin Abu Bakar dan Kiai Yahya yang menekankan kepada seluruh pejuang untuk tidak terpengaruh oleh provokasi DI/TII yang ingin memisahkan diri dari Republik Indonesia. Kiai Yahya di kalangan para pasukan juga sangat terkenal dengan sikap pemberaninya. Setelah agresi Militer Belanda 1 yang memaksa pejuang Indonesia dipukul mundur. Dari pihak Indonesia, Mayor Sullam memikul tugas berat untuk merebut kembali Kota Malang yang sudah terlanjur dikuasai oleh pasukan asing. Disiapkanlah strategi perang gerilya. Semua kekuatan dikerahkan, termasuk potensi dan kharisma Kiai Yahya. Ada empat tugas khusus yang harus dilakukan Kiai Yahya. Di antaranya, tugas motivator, tugas intelejen, tugas logistik, dan tugas teritorial. Meski tergolong berat, namun tugas tersebut dijalankan dengan baik oleh Kiai Yahya yang mampu menggerakkan santri dan masyarakat sekitar. Tidak heran jika Kiai Yahya dikenal sebagai seorang ahli strategi dan mobilisator yang tangguh, istiqomah, tegas dan cerdas. Pagi, 4 Syawal 1392 H atau bertepatan pada tanggal 23 November 1971 M sekitar pukul 09.30 WIB, Kiai Yahya mengembuskan nafas terakhir, menghadap Allah SWT pada usia 71 tahun. Ada yang berpendapat ia meninggal pada usia 68 tahun karena Kiai Yahya lahir pada 1903. Namun, menurut saksi hidup, KH Abdurrahman Yahya, saat ditemui penulis, yang lebih valid adalah Kiai Yahya lahir tahun 1900, sehingga umur beliau 71 tahun. Terlepas dari itu semua, kepergiannya yang mendadak dan begitu mudah, membuat keluarga ndalem, tetangga dan santri setengah tidak percaya, termasuk Nyai Khodijah dan KH Abdurrahman Yahya yang mendampingi hingga detik-detik terakhir. Namun Allah SWT Maha Kuasa dan Maha Berkehendak untuk menciptakan makhluk sekaligus mengambilnya. Akhirnya, Kiai Yahya wafat meninggalkan ilmu, pesan, teladan dan kenangan tiada terukur bagi siapa pun. Muhammad Faishol, mantan wartawan Jawa Pos Radar Malang yang saat ini menjadi Koordinator Redaktur Media Santri NU (MSN) Malang; Santri Sholawatul Qur’an Banyuwangi dan Sabilurrosyad Gasek Malang.

PERKEMBANGAN NAHDHATUL ULAMA DI MASA KINI

Nahdlatul ulama adalah organisasi yang dirintis dan disepakati oleh para ulama pesantren sebagai wadah mempersatukan diri dan menyatukan langkah dalam mengamalkan ajaran islam Ahlussunnah Wal Jama’ah dan berkhidmat kepada bangsa dan Negara. NU merupakan perkumpulan ulama yang bangkit dan membangkitkan para pengikutnya bersama kaum muslimin di tengah lingkungan masyarakat, juga sebagai Jam’iyyah Diniyah Islamiyah yang merupakan bagian dari masyarakat bangsa Indonesia berpegang teguh pada kaidah-kaidah keagamaan.
Sedangkan Ahlussunnah Wal Jama’ah sendiri adalah suatu golongan yang sudah ada sejak zaman Rasulullah SAW, sahabat Nabi, dan Tabi’in yang biasanya disebut dengan “As-Salafus Shalih”, pendapat ini didasarkan pada pengertian, bahwa Ahlussunnah Wal Jama’ah adalah golongan yang senantiasa setia mengikuti sunnah Nabi SAW dan petunjuk para sahabatnya dalam Aqidah, Fikih, dan Tasawwuf.
NU adalah organisasi yang besar, bahkan yang terbesar di Indonesia, termasuk organisasi yang kuat, yang tidak tergoyahkan oleh perubahan dan perkembangan, baik perubahan politik ataupun perkembangan ilmu pengetahuan. Diniyah Ijtima’iyah yang bermotif keagamaan dan berlandaskan keagamaan NU harus dipimpin oleh tokoh-tokoh yang bias dipertanggung jawabkan secara moral,  ilmu, amal dan akhlak. Sebagaimana yang dijelaskan dalam Hadits:
لاَتَبْكُوْا عَلَى الدِّيْنِ اِذَا وَلِيَهُ اَهْلُهُ وَابْكُوْا عَلَى الدِّيْنِ اِذَا وَلِيَهُ غَيْرُ اَهْلِهِ
“ jangan kalian menangisi agama bila ia dikuasai oleh ahlinya, dan tangisilah agama itu bila ia dikuasai oleh orang yang bukan ahlinya”
            NU mempunyai sistem kepengurusan yang berbeda dengan organisasi yang lain, yaitu terdiri dari Mustasyar yang berfungsi sebagai penasehat. Yang kedua Syuriyah yang berfungsi sebagai pemimpin, Pembina, pengendali, pengawas dan penentu kebijakan, dan yang terakhir adalah Tanfidziyah sebagai pelaksana tugas-tugasnya.
            Pada zaman Globalisasi ini NU berkembang sangat pesat bahkan kegiatan atau program-program di dalamnya sangat baik, namun saat ini NU mulai mengalami kemunduran. Semua itu disebabkan datangnya firqoh-firqoh yang tak kalah kuatnya dengan NU Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Muhammadiyah, Syiah, dan lain-lainnya bahkan firqoh-firqoh tersebut mempunyai dalil-dalil yang kuat. Sebagaiman yang telah diketahui bahwa Muhammadiyah sangat berat menerima kebiasaan-kebiasaan masyarakat NU Ahlussunnah Wal Jama’ah seperti Dibaiyah, Tahlil, Marhaban, Manaqib, dll. Dengan alasan semua alasan itu termasuk Bid’ah, yaitu sesuatu yang belum pernah dikerjakan oleh nabi dan sahabat-sahabatnya. Munculnya firqoh-firqoh baru yang menyesatkan seperti Karihun dll. Firqoh tersebut telah banyak dianut oleh sebagian penerus Ahlussunnah Wal Jama’ah khususnya di kalangan remaja. Salah satu faktor mundurnya NU adalah banyaknya ulama’ besar yang telah wafat dan kyrangnya kader-kader penerus NU. Apalagi di zaman ini banyak sekali pesantren-pesantren besar yang perlu perhatian dari pengasuhnya (Kyai) sehingga NU dan kader-kader penerusnya kekurangan motifasi dan perhatian, bimbingan dan penjagaan, dan belajar mengajar.
            Namun sebagai golongan Ahlussunnah Wal Jama’ah dan penerusnya, kita harus membangkitkan kembali Ukhuwah Islamiyah dan semangat penerus-penerus NU untuk masa ke masa menghentikan kekerasan di bumi Allah dan menghentikan firqoh-firqoh sayyiah yang telah menyeleweng dengan ajaran islam. Sebagaimana prinsip-prinsip Nu:
اَلمْحَافَظَةُ عَلَى الْقَدِيْمِ الصَّالِح وَاْلاَخْدُ بِالْجَدِيْدِ اْلاَصْلَح
“memelihara nilai yang lama yang baik dan benar, dan mengambil nilai baru adalah yang lebih baik”

Minggu, 22 Mei 2016

NU menyikapi fatwa MUI: Ahmadiyyah sesat

Ahmadiyyah adalah sebuah agama yang didirikan oleh Mirza Ghulam Ahmad al-Qadiyani, di negara India. Diantara akidah sesat mereka adalah mereka mengakui Mirza Ghulam Ahmad sebagai Nabi baru setelah wafatnya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam.
NU dan Ahmadiyah 1
NU dan Ahmadiyah 2
NU dan Ahmadiyah 3
NU dan Ahmadiyah 4
NU dan Ahmadiyah 5
Padahal sudah jelas dalam syariat Islam, bahwasanya Nabi Muhammad shalallahu alaihi wa sallam adalah penutup para Nabi dan Rasul.
Hal ini sebagaimana dalam firman Allah subhanahu wa taala:
مَّا كَانَ مُحَمَّدٌ أَبَا أَحَدٍ مِّن رِّجَالِكُمْ وَلَـٰكِن رَّسُولَ اللَّـهِ وَخَاتَمَ النَّبِيِّينَ ۗ وَكَانَ اللَّـهُ بِكُلِّ شَيْءٍ عَلِيمًا ﴿٤٠﴾
Muhammad itu sekali-kali bukanlah bapak dari seorang laki-laki di antara kamu, melainkan Rasulullah dan penutup nabi-nabi. Adalah Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (al-Ahzab: 40)
Oleh karena itu Khalifah Abu Bakr ash-Shidiq radiyallahu anhu orang yang paling lembut hatinya, manusia terbaik dari umat Muhammad shalallahu alaihi wa sallam mengirimkan pasukan tempur kaum muslimin untuk menghancurkan nabi palsu Musailamah al-Kadzzab. Terjadilah pertempuran hebat di negeri Yamamah, tewaslah nabi palsu tersebut bersama sekitar 20.000 pengikutnya dari kalangan orang-orang murtad.
Kalau meminjam istilah Jamaah Islam NUsantara (JIN), langkah strategis yang diambil oleh Khalifah Abu Bakr ash-Shidiq radiyallahu anhu tersebut jauh dari sikap “rahmatan lil alamin”, seakan-akan agama Islam rahmatan lil alamin baru muncul beberapa tahun yang lalu, baru ada di NUsantara dengan munculnya Wali Songo, seolah-olah Islam yang dibawa Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam dan yang dipahami dan diamalkan oleh para Shahabatnya adalah Islam yang dipenuhi teror dan horor.
Demikian pula penyebaran islam yang dilakukan oleh para shahabat, tabiin dan tabiut tabiin, jika dilihat dengan kaca mata JIN, maka sekadar pendudukan dan pencaplokan wilayah semata dengan menggunakan kekerasan.
Dengarlah oleh kalian wahai Jamaah Islam NUsantara (JIN)!
Kami katakan kepada kalian, justru sikap dan langkah taktis yang diambil Khulafa ar-Rasyidin Abu Bakr radiyallahu anhu tersebut membawa rahmat bagi alam semesta, tersebarlah Islam ke seluruh pelosok dunia, bahkan Islam eksis lebih dari 1400 tahun yang lalu.
Bahkan jikalau bukan karena sikap dan langkah yang diambil oleh khalifah Abu Bakr radiyallahu anhu tersebut (tentunya setelah takdir dan ketentuan Allah), maka mungkin kalian para JIN tidak akan mengenal Islam, bahkan mungkin nenek moyang kalian masih sibuk dengan penyembahan batu dan berhala, sehingga kalian tidak pernah mengenal istilah rahmatan lil alamin.
Oleh karena itulah, para ulama dari berbagai tempat dan berbagai masa terus mengingatkan umat dari bahaya aliran-aliran sesat, terkhusus kelompok-kelompok sempalan yang mengklaim memiliki nabi baru, atau klaim semisal itu.
Tidaklah muncul sekte sesat, kecuali para ulama bangkit untuk mengingatkan umat akan hakikat mereka sebenarnya.
Diantara aliran sesat dan menyimpang yang telah diperingatkan para ulama adalah agama Ahmadiyyah, ulama dari berbagai masa dan tempat telah mengeluarkan fatwa sesat untuk agama Ahmadiyyah tersebut.
Demikian pula di negeri NUsantara Indonesia telah muncul fatwa sesat untuk agama baru tersebut, fatwa yang dikeluarkan oleh MUI, dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M.
NU dan Ahmadiyah 6
NU dan Ahmadiyah 7
NU dan Ahmadiyah 8
Namun bagaimana tanggapan ormas NU yang “rahmatan lil alamin”?
Gus Dur tokoh besar ormas NU, pernah berkata:

“Selama saya masih hidup, saya akan pertahankan gerakan Ahmadiyah,”

tegas Gus Dur.
Ahmadiyyah dan NU4
Videonya bisa klik di sini:
Tidak cukup sampai disitu, untuk lebih mengaburkan permasalahan sebenarnya “Wali NU ke 10” Gus Dur mengeluarkan pernyataan bahwa yang berhak mengatakan sebuah aliran sesat atau tidak adalah Mahkamah Agung, bukan MUI.
Demikianlah berbagai macam cara mereka gunakan dan halalkan, asal sekte-sekte sesat tersebut tetap bisa tumbuh subur di negeriNUsantara.
Tradisi “rahmatan lil alamin” ala ormas NUsantara ini ditindak lanjuti oleh istrinya, Sinta Nuriyah yang hingga detik ini terus membela, menyokong, bergandeng tangan dan berhubungan mesra dengan pengikut agama Ahmadiyyah NUsantara.
NU dan Ahmadiyah 9
NU dan Ahmadiyah 10
NU dan Ahmadiyah 11
NU dan Ahmadiyah 12
NU dan Ahmadiyah 13
Sekarang mari kita bandingkan, sikap ormas islam NUsantara dengan sikap Khalifah Abu Bakr ash-Shiddiq radiyallahu anhu dalam menyikapi aliran sesat para pengusung nabi palsu.
Manakah yang lebih rahmatan lil alamin?
Gus Dur, istri dan keturunannya -serta tokoh-tokoh NU yang setipe dan sejalan dengan Gus Dur- sebagai wakil ormas islamNUsantara atau Abu Bakr ash-Shiddiq?
Ataukah jamaah JIN tersebut akan mengakui kalau slogan “rahmatan lil alamin” yang terus mereka usung tersebut sejatinya adalah basa-basi, sekadar pemanis buatan untuk menyeret kaum muslimin ke dalam berbagai kesesatan dan penyimpangan?
Yang sikap lembek dan kurang pede (percaya diri) tersebut muncul dari dolar-dolar Yahudi yang terus menggelontor ke rekening ormas islam NUsantara?
Sungguh musibah di atas musibah…